Saksi Abi Berpulang

Pagi ini seperti biasa aku mengukur suhu badan suamiku yang tergolek lemah di kasur. Angka di termometer menunjukkan 34 derajat Celsius. Kuulangi lagi mengukur suhunya. “Mungkin ada yang salah dengan alat ini.”

Pengukuran ke dua menunjukkan hasil yang berbeda, 36 derajat celcius. Membuat hatiku lega. Segera kusiapkan bubur untuk sarapan pagi ini. Aku masih semangat, masih yakin suamiku bisa sembuh. Hingga suara lirih itu muncul dari bibirnya yang tampak mengering.

“Abi sudah gak kuat Mi, sakit.”

Hari ini lebih dari empat bulan lamanya badannya terus berada di pembaringan. Tentu panas terasa di punggung, apalagi ditambah kondisi kesehatannya yang terus drop. Dokter menjelaskan tulang punggungnya sudah rapuh termakan tumor, demikian juga tulang panggulnya.

“Ya Rabb, berat nian penderitaan suamiku, berikan yang terbaik untuknya.”

Hanya ada dua sendok bubur yang bisa masuk ke mulutnya, setelah itu ia menolak untuk makan.

“Abi sudah gak bisa makan Mi, jangan paksa Abi,” pintanya sambil menahan sakit.

Terus terang aku sedih, melihatnya tidak mau makan banyak dan minum obat. Saat itu aku tidak menyadari baha ajalnya sudah mendekat. Aku tidak melihat itu sebagai pertanda buruk, karena semangatku untuk melihatnya sembuh kembali demikian kuat.

Adalah Aleeya anak bungsu kami yang membersamaiku merawat Abi. Selain Aleeya kedua ayah dan ibu dari pihak suami, yang tak lain adalah mertuaku juga turut hadir membersamai. Bahkan ketiga adik serta iparku terus berada di samping kami. Luar biasa dukungan keluarga besar untuk kesembuhan suamiku.

Ini adalah hari kedua kami kembali ke rumah, setelah sebelumnya suami dirawat di sebuah RS swasta di Bandung. Dokter sudah angkat tangan. Kemungkinan suamiku sembuh sudah tidak ada secara medis. Ibaratnya kami tinggal menunggu hari menjemput ajal. Remuk redam rasa hatiku.

Biarlah dokter berpikiran dan berpendapat seperti itu, karena mereka memiliki keilmuan yang dalam. Aku tidak bisa memaksakan suami untuk terus berada di RS karena mereka sudah angka tangan. Tinggal kami, pihak keluarga mencoba pengobatan dengan alternatif lain, kami berunding mencari jalan keluar.

Rapat Keluarga

Aku ingat saat itu adalah hari Jumat, kami sekeluarga berunding mencari car agar suami lekas sembuh. Kami berunding di lantai atas, suamiku ada di dalam kamar di lantai bawah ditemani Ibu mertua.

Satu hari sebelumnya, tidak seperti biasa di suamiku mengeluh sakit sekujur tubuh. Ia mengaduh. Aku mencoba mengingatkannya yang saat itu mulai tampak gelisah.

“Jangan berteriak Bi, lebih baik berzikir ya, sebut nama Allah,” aku menatap mengusap tubuhnya dan tampak ia menatap dalam mataku. Alhamdulillah tak lama kemudian lafadz Allah keluar dari mulutnya. Subahanallah.

Aku tahu, suamiku orang yang sangat sabar menahan sakit. Tidak pernah terdengar keluhan selama kami merawatnya. Adalah tugasku selaku istri yang mendampingi untuk terus membimbingnya mengingat Allah dan tetap tenang.

“Jika sebelumnya aku adalah perempuan yang rapuh, cengeng dalam menghadapi masalah hidup selalu dikuatkan oleh suamiku untuk sabar dan meminta pertolongan Allah Swt. Kini giliranku untuk berlaku sebaliknya.”

Sakit bisa mendatangkan mahluk pada kondisi kekufuran, aku ingin suamiku tetap dalam sabarnya, seperti yang sering ia ulang-ulang padaku dan anak-anak, betapa sabarnya nabi Ayub a.s.

“Kita harus mengakhiri hidup ini dalam konsisi terbaik, husnul khatimah.”

Rapat keluarga hari itu memutuskan bahwa kami akan melanjutkan pengobatan secara alternatif alias nonmedis. Kami akan menemui seorang Ibu yang biasa melakukan terapi herbal pada penderita penyakit berat.

Setelah menunaikan sholat Jumat, berangkatlah mertuaku dan adik ipar ke tempat pengobatan alternatif tersebut, namun rupanya saat itu tempat pengobatan tutup, baru buka kembali di hari Sabtu.

Takdir terbaik di hari itu yang Allah Swt berikan harus kami terima dengan lapang dada.


Sabtu pagi Hari Perpisahan Kami

Jumat maghrib sampai dengan malam harinya suamiku terserang batuk-batuk, kami bergiliran menjaganya mengingatkan untuk terus berzikir. Kutelepon salah satu kenalanku yang bertindak sebagai perawat, beliau menyatakan akan datang pagi hari guna memeriksa kondisi kesehatan suamiku.

Aku benar-benar tidak menyangk bahwa pagi itu adalah hari terakhirku bersamanya. Sebetulnya aku sudah menyiapkan mental jika satu saat Allah Swt benar-benar memanggilnya, tapi tidak secepat ini, rasanya aku tidak rela untuk itu.

Karenanya saat kondisi kesadarannya semakin menurun aku meminta adik bungsu suamiku  terus melakukan talqin disampingnya ditemani anak bungsuku dan kedua mertuaku. Sementara itu aku meminta ditemani adik suami lainnya mencari pertolongan medis.

Rupanya takdir berkata lain, baru saja aku sampai di depan rumah perawat yang tak jauh dari rumah, ada berita masuk ke telepon genggamku menyampaikan kabar bahwa suamiku berpulang, Tangisku pecah seketika dan kami menyampaikan berita ini pada sang perawat.

“Leres Bu, tos teu aya,” perawat memastikan kondisi suamiku memegang nadinya.

Rupanya memang benar dia sudah tiada meninggalkan aku dan empat anakku yang masih kecil-kecil. Aleeya yang saat itu baru berusia enam tahun adalah satu-satunya anak yang ada di sisi beliau dengan tegarnya menyaksikan kepergian alhmarhum menghadap-Nya. Aleeya dipilih Allah untuk menyaksikan detik-detik terakhir Abi menutup mata dalam kedamaian.

Kupeluk jenazahnya kusampaikan ucapan terima kasih sudah mendidikku menjadi tegar dan ikhlas menghadapi kondis tersulit dalam hidup kami, yakni perpisahan abadi. Aku manyampaikan janji akan menjaga anak-anak sesuai pesannya, mendidik menjadi anak yang sholeh sholehah. In syaa Allah.

Perawat yang kami panggil datang kembali dengan membawa tim jenazah, Ma syaa Allah  begitu banyak orang yang hadir dan tak kukenal menyampaikan bela sungkawa. Aku dibuat terharu mengingat baru tiga hari kami menempatu rumah kontrakan yang sengaja kami sewa dengan posisi berdekatan dengan rumah perawat,  agar dapat dengan mudah kami mita bantuan jika kondisi genting.

Adapun ketiga anak-anakku yang lain saat abi berpulang, mereka semua tengah berada di sekolah masing-masing. Kedua adikku bertugas menjemputnya, ketiganya datang dalam kondisi berpakaian seragam sekolah, hanya mampu memandang jenazah seakan tak percaya.

Demikianlah takdir kematian, ia bisa datang tak kenal waktu, tak memandang usia. Kulihat kedua mertuaku yang sehat wal afiat, begitu tegar melepas anak kesayangannya. Demikian pula adik-adiknya sudah ikhlas menerima takdir terbaik dari-Nya

“Ummi, pagi ini Aleeya sudah kirim al fatihah untuk makan pagi Abi,” Aleeyaku membayangkan almarhum makan minum layaknya orang hidup yang melakukan aktivitas makan dan minum.

“Aleeya juga barusan kirim do’a untuk minumnya,” ia melanjutkkan.

Abi pasti makan dan minum bareng teman-temannya ya Mi.”

Aleeya anak yang kuat, Aleeya dipilih Allah agar menjad wanita tangguh.

Aleeya anak perempuan kami satu-satunya menjadi saksi hidup kesabaran dan keistiqomahan Abi dalam sabar dan tawakal menghadap sang pencipta Allah Swt.

5 comments:

  1. Huaaaa... brebes miliiiii ummm

    Alfatihaaa

    ReplyDelete
  2. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihii wa'fu 'anhu

    ReplyDelete
  3. Ma syaa Allah Ummi..wanita kuat, wanita solehah dan tangguh..

    ReplyDelete
  4. Peluuukkk Ummi.... Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihii wa'fu 'anhu. Ummi kuat, kuat, kuat...

    ReplyDelete