Penyesalan Terdalam dari Seorang Istri yang Ditinggal Wafat Suami karena Kanker

Andai aku bisa memutar waktu, ingin rasanya aku kembali berada di sampingnya. Memberikan yang terbaik, bukan pengkhianatan dan hubungan penuh drama dalam sebuah ikatan suci pernikahan ....

Menjadi janda muda itu tidak mudah, apalagi memiliki bentuk tubuh aduhai dan berparas cantik. Banyak lelaki datang dengan maksud meminang. Banyak teman berlomba membantu menjodohkan. Tetapi ternyata tak mudah untuk mendapatkan  sosok yang lebih baik dan siap menjadi ayah untuk anak-anak yang ditinggalkan.

Menjadi ibu tunggal itu tak mudah, seperti yang diceritakan seorang wanita muda padaku. Wanita muda berparas cantik itu  memulai cerita sambil menangis, sebuah tangis penyesalan. Tangis yang tak mampu mengembalikan seseorang yang paling berarti di hidupnya kini : suami. Penyesalan demi penyesalan terus meluncur dari bibir mungilnya. Beberapa kali tangannya membetulkan letak kaca mata yang membingkai indah bola matanya."Aku sungguh-sungguh sangat menyesal, suamiku itu orang saleh, tak layak aku menyia-nyiakan dirinya selama ini."

Ia bercerita tentang sebuah pengkhianatan yang dilakukan selama menjadi istri dari lelaki berkulit legam. Lelaki yang rela menahan kesakitan saat kemoterapi dilakukan berulang. Sehingga kulitnya semakin legam, dan tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit.

Wanita itu melanjutkan ceritanya, "Aku baru sadar betapa ia banyak disayangi rekan kerjanya, karena kejujuran dalam bekerja. Semua teman kantornya, baik lelaki maupun perempuan, menangisi kepergiannya. Semua menyatakan bahwa suamiku lelaki baik-baik. Sementara itu aku abaikan semua haknya karena keegoisanku."

Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat. Ikatan pernikahan suci ia khianati demi sebuah mimpi : menikah dengan lelaki lain yang ia cintai. Rupanya, dalam sebuah pernikahan agung, ia rela mendua hati. Terus berkomunikasi dan membangun mimpi bersama pria lain yang ia tinggalkan demi sebuah status : menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.

"Aku memang tidak pernah mencintai suamiku, sejak saat ia datang melamar hingga menikahiku, rasa cinta itu tak kunjung datang."

"Aku memilih menerima pinangannya karena ingin bebas dari keluargaku. Ayahku pemabuk dan ibuku wanita yang berat sebelah dalam memberikan kasih sayang. Pergi dari rumah dengan menerima lamarannya adalah pilihan terbaikku saat itu."

"Betapa gilanya aku, masih terus behubungan dengan lelaki lain  disaat aku masih menjadi istri sahnya," ia membuka sisi kelam dalam kehidupan rumah tangga yang terlihat baik-baik saja.

"Aku sering pergi berkencan  dan membiarkan suamiku kelelahan karena mengurus bayi kami sepulangnya bekerja. Ya, setiap pulang kerja ia selalu piket menjaga anak kami. Aku enggan mengurus bayi yang lahir dari rahimku."

Ajal memang datang tiba-tiba. Saat sang suami berada di puncak karir, penyakit mematikan itu datang dan merenggut nyawanya. Mulailah ia tersadar akan banyak hal. Betapa selama ini ayah dari anak-anaknya itu, telah banyak berkorban untuk keluarga kecilnya.

"Saat ia masih hidup, aku tak pernah mau peduli dengan kondisi keuangannya. Aku meminta apa saja yang aku inginkan, tanpa mau mengetahui berapa besar gaji yang diterimanya," ia melanjutkan ceritanya.



Sumber gambar :  google.com


Saat suaminya wafat karena terserang kanker, barulah ia tahu bagaimana rumitnya mengelola keuangan rumah tangga. Ia harus pandai mengelola harta peninggalan suami untuk keberlangsungan hidupnya beserta tiga orang anak yang kini menjadi yatim.

Hal yang membuatnya makin tersadar adalah tatkala menghadapi kenyataan, pujaan hatinya yang selama ini menghiasi mimpi-mimpinya, tidak mau berani melamarnya. Padahal statusnya saat ini sudah menjadi seorang janda. Rupanya, lelaki itu tak pernah serius. Ah, luka di hatinya bertambah parah.

Pesannya untuk semua istri agar bersyukur dengan pasangan yang Alloh swt berikan saat ini. Ia adalah pasangan terbaik yang Tuhan kirimkan.

"Jangan seperti aku, menjadi wanita yang tak pandai bersyukur," wanita muda itu menutup cerita kisah hidupnya.

Aku tertegun, setengah tak percaya dengan apa yang baru saja ia ceritakan padaku. Aku peluk tubuh mugilnya dan kubisikkan "Jadilah wanita salehah sepeninggalnya. Didiklah anak-anak dengan baik. Ia pasti bangga padamu."

0 komentar:

Post a comment