Peduli pada Nelayan Kembalikan Jalesveva Jayamahe!

Negara Indonesia terdiri atas 80% lautan dan 20% daratan. Sayangnya, selama ini kita seakan melupakan itu. Kekayaan alam lautan seringkali jadi sasaran pencurian negara lain, juga menjadi jalan terjadinya aneka transaksi haram, mulai dari penyelundupan, perdagangan manusia, penjualan obat-obatan terlarang. Hingga negara mengalami kerugian dalam jumlah yang sangat besar.

Presiden terpilih, Joko Widodo saat pelantikannya tanggal 20 Oktober 2014 lalu,  mengajak kita mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim. Jalesveva Jayamahe, dilaut kita jaya. Semboyan TNI AL yang diucapkan Bapak Jokowi seakan menghipnotis kiat untuk kembali mengulang kejayaan Bangsa di lautan.

Jika kita menengok sejarah masa lalu. Sriwijaya dan Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim terhebat pada masanya.Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang memiliki dasar politik sendiri untuk menguasai alur pelayaran dan jalur perdagangan serta menguasai daerah strategis yang digunakan bagi pangkalan armada lautnya. Sedangkan Majapahit merupakan kerajaan maritim yang dikenal mampu mempersatukan Nusantara. Terbukti sudah bahwa nenek motang kita adalah para pelaut ulung, bukti lainnya adalah adanya kapal Pinisi. Kapal tercanggih di masanya.

Kapal Pinisi menjadi latar panggung salam tiga jari (sumber:nasional.republika.co.id)

Kita lupa akan keberanian nenek moyang kita, yang berjasa mempersatukan Nusantara. Kita pun tak peduli pada nasib para nelayan, yang hidup dari kegiatan melaut.  Harga solar kerap tak terjangkau, bahkan seringkali lenyap di pasaran, hingga mereka tak dapat melaut. Para nelayan terpaksa menjual harta untuk menyambung hidup. Tak sedikit menjual ladang dan tanahnya pada pihak asing, berpindahlah kepemilikan lahan, ladang dan pulau. Penjajahan terselubung telah lama terjadi.


Tugu Jalesveva Jayamahe di Surabaya (sumber: Jogjaicon.blogspot.com)

Sesungguhnya kita harus banyak belajar dari cara hidup para nelayan. Mereka berani menerjang ombak dan badai guna menyambung hidup.Jiwa nelayan adalah jiwa pejuang tangguh. Dalam pidatonya , Presiden Jokowi dengan lantang mengajak seluruh elemen bangsa untuk maju bersama melalui kerja, kerja dan kerja. Jokowi pun memberikan perhatian pada kaum yang selama ini tersingkir, yakni nelayan.

Menghidupkan kejayaan sebagai negara maritim, berarti pula menhidupkan kembali jiwa pejuang kita melalui kerja keras bersama. Kerja para pelaut ulung. Jalesveva Jayamahe moga berbuah nyata.

2 comments: