Yatim Piatukah, Anak Kita?



Pagi tadi, Selasa 9 September 2014, saya mandatangi Panti Sosial Asuhan Anak "Anak Saleh" yang berlokasi di Jl. rancabolang No. 1 Bandung. Lokasi Panti ini  dikelilingi komplek perumahan, terletak tidak jauh dari tempat produksi brownies kukus “Amanda”.

Kedatangan saya ke Panti tersebut adalah dalam rangka pengumpulan data guna melengkapi calon buku ke-3 saya yang bertemakan Anak Yatim. Selain itu, saya juga hadir mewakili Ibu Indari Mastuti selaku CEO Indscript Creative yang akan memberikan donasi berbentuk Metrik bagi anak-anak Panti.

Alhamdulillah, saat tiba di tempat, saya bisa mengobrol langsung dengan Ibu Kepala Panti, yakni Ibu Hj. Siti Rahimah Tussa'diah,S.H. Ibu setengah baya tersebut dengan ramah menyambut kedatangan saya. Beliau dengan antusias menanggapi rencana saya untuk melakukan pengumpulan data di Panti tersebut dan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi Panti saat ini.

Menurutnya, saat ini ada 30 anak yang diasuh di Panti, dengan usia beragam, mulai dari SD hingga SMK. Dari 30 anak tersebut, 11 diantaranya adalah anak dari keluarga terlantar.Menurut beliau, konsidi Yatim tidak terbatas pada anak yang ditinggal meninggal sang Ayah saja, namun kenyataannya di lapangan, banyak anak yang diterlantarkan Ayah, bahkan tidak sedikit dari mereka mengalami tindak kekerasan fisik . Salah satu korbannya adalah seorang anak yang memiliki keterlambatan dalam berpikir, diusianya yang sudah bersia 18 tahun baru duduk di kelas 5 SD.  Rupanya sang Anak sering mengalami kekerasan dalam bentuk benturan di bagian kepala. 

Ada beberapa anak yang sengaja tidak diijinkan pihak keluarga untuk bertemu Ayah, karena khawatir dibawa kembali menjadi anak jalanan. Pada waktu Idul Fitri yang lalu, sang Anak berdiam di Panti, padahal Ayah dan Ibunya masih hidup. Sungguh, anak ini bak anak Yatim Piatu jadinya.

Pekerjaan Rumah terbesar yang di alami pengelola Panti adalah bagaimana mengenalkan aturan pada anak-anak yang diterlantarkan orang tua. Karena besar di jalan, anak-anak ini tidak mengetahui bagaimana adab yang harus dilakukan seoramg muslim dalam banyak hal. Pun karena berasal dari keluarga miskin, rata-rata kemampuan berpikirnya  lambat, termasuk dalam program hapalan Qur'an. Tentunya dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk mengajari anak-anak tersebut.

Kabar baiknya adalah, pihak Panti menungaskan ustadz mereka untuk membina anak-anak dhuafa yang tersebar di sekitar lokasi Panti untuk mengikuti Program Tahfidz. Setiap waktu yang ditentukan, anak-anak binaan tersebut datang ke Panti untuk melakukan proses setor ayat yang sudah dihapalkan. Sungguh kerja yang patut diacungi jempol. Bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah Ayah dan Bunda memiliki waktu untuk memerhatikan proses pendidikan agama mereka dan mendampinginya dengan baik? Ataukah kita sibuk bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk itu? Jangan-jangan secara fisik kita – Ayah dan Bunda – masih hidup tapi tak pernah hadir khusus untuk mereka. Jika begitu, anak kita tak bedanya dengan anak Yatim Piatu. Naudzubillah…


==============================================
Gabung dalam Program Donasi Metrik untuk AnakPanti, Mau?
Metrik tersebut digunakan untuk mengontrol target jumlah hapalan ayat anak per bulan.

Segera Inbox FB :  UmmiAleeya

0 komentar:

Post a comment