Kalau Bisa Dipersulit Mengapa Dipermudah?

Beberapa pekan terakhir ini saya merasa was-was, karena STTB anak saya yang baru saja lulus SD belum diterima. Konon blangko STTB  belum diperoleh pihak sekolah. Alhasil, kejanggalan muncul di tahun ini, hanya berbekal nilai ujian propinsi, siswa lulusan SD mendaftar ke sekolah tujuan mereka. Lucunya, setelah mereka diterima di SMP sang STTB belum menunjukkan batang hidungnya.

Beberapa kali saya menghubungi Ibu Guru sekolah via handphone. Namun belum mendapat jawaban pasti, kapan saatnya anak saya harus kembali ke SD untuk melakukan proses cap 3 jari atas STTB nya. Saya khawatir tertinggal informasi,  dilain pihak ijin dari sekolah barunya, sebuah SMPIT  yang memberlakukan boarding school tidak mudah diperoleh. Saya tidak bisa sembarang waktu meminta ijin mengambil anak dari sekolah. Selain itu jarak sekolah sekarang dan SD nya dulu cukup jauh, sehingga satu kali ijin harus termanfaatkan dengan benar. Serkitar 3 atau 4 kali saya menanyakan hal yang sama, hingga beliau berjanji,  akan memberikan informasi hari "H"  prosesi cap 3 jari melalui sms. 

Tunggu punya tunggu ternyata saya malah mendapat kabar yang cukup mengejutkan! teman-temannya yang lain sudah melaksanakan prosesi cap 3 jari...sementara anak saya tertinggal info..padahal saya adalah ortu siswa yang rajin 'halo-halo', kirim sms berantai jika ada pengumuman dari pihak sekolah. Namun saat itu malah tak ada info yang memberitahukan saya perihal waktu pelaksanaan cap 3 jari STTB. 

Untuk memastikan langkah apa yang harus dilakukan, saya mencoba menelepon, namun telepon Ibu Guru penanggung jawab pengurusan STTB tidak dapat dihubungi. Sementara itu, saya berinisiatif meminta ijin kepada wali santri SMP, bahwasanya Senin tanggal 15 September 2014, anak saya tidak dapat bersekolah karena akan mengikuti susulan proses pengurusan STTB.

Senin paginya, dengan bergegas saya membawa anak ke sekolah SD nya dulu. Di sana saya bertemu dengan Ibu Kepala sekolah, beliau menyatakan bahwa Ibu Guru penanggung jawab STTB datang jam 12.00 karena jadwal mengajar siang. What? Blangko sepenting itu dibawa ke rumahnya? tidakkah ada guru piket bergantian menerima siswa yang menyusul proses cap 3 jari?  Padahal blangko STTB tersebut telah terisi lengkap, tinggal membubuhkan cap 3 jari saja.

Andai saja jari sang Anak bisa diwakili oleh jari Bundanya, tentu saya tidak akan 'memaksa' melakukan proses cap 3 jari pagi itu. Berhubung rumah guru yang dimaksud rumahnya dekat dari sekolah, serta  sayapun sudah sangat kenal dekat dengan beliau, saya memberanikan diri datang ke rumahnya. 

Tiba di rumah sang Ibu Guru, terdengar suara anak ramai di dalam rumah. Rupanya pagi itu Bu Guru sedang mengajar anak-anak les di rumahnya. Tampak sang Suami tengah asyik mengerjakan pekerjaan di depan komputer.

"'Assalaamu'alaikum," ucap saya di depan pintu ruang samping yang terbuka.
"Wa'laikum salam," jawab Bapak (suami dari Ibu guru tsb)
"Bade aya peryogi naon?," tanya Bapak tersebut dalam Bahasa Sunda (terjemah : Ada perlu apa?)
"Bade aya peryogi ka Ibu  Pak", jawab saya. (terjemah : Mau ada perlu ke Ibu )
"Wah, teu tiasa diganggu nuju ngawulang les," jawab Bapak tersebut. (terjemah : Wah gak bisa diganggu, Ibu sedang mengajar les *padahal les di rumah gitu loh, bukan rapat penting..hmmm..
"Hapunten Pak, nyuhunkeun waktosna sakedap, pun anak teu acan cap 3 jari STTB..sakolana tebih sesah widi ", jawab saya setengah memelas (terjemah : "Mohon maaf Pak, minta waktunya sebentar, anak saya belum cap 3 jari STTB, sekolahnya jauh susah ijin)

Saya berpikir, adalah hak anak saya untuk memperoleh STTB , dan adalah kewajiban sang Guru untuk memberikan pelayanan terbaiknya. Namun apa yang saya dapatkan ? Dengan bahasa Sunda yang kasar dan setengah berteriak Bapak tersebut tanpa sopan di depan saya dan anak murid yang lain mengatakan "Tah Bu, jelemana maksa wae kudu ayeuna ,teuing ah!" Astaghfirulloh..apa susahnya menerima tamu dengan baik, menyuruh duduk dan berembug. Akhirnya Ibu guru tersebut keluar sambil menggerutu, tak ikhlas..begitukah pelayanan publik kita? Apakah beliau tak sadar sedang menjalankan kewajibannya? Padahal proses cap 3 jari  hanya memakan waktu 10 menitan. Mana janjinya yang akan memberitahukan saya? malahan yang ada saya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Seakan hilang hubungan baik yang terajut selama ini hanya karena saya minta sedikit waktu untuk proses cap 3 jari. 

Berkali-kali saya ucapkan permohonan maaf telah mengganggu waktunya. Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan, mengurusi hak kita sambil mendapat perlakuan yang tidak nyaman. Hal yang sama ternyata dialami orang tua siswa di Purwakarta. Minta waktu cap 3 jari saja sampai harus adu mulut dan gebrak meja. Sudah menjadi kewajiban pihak sekolah memberikan pelayanan terbaik, apalagi jika siswa sengaja ijin dari sekolahnya sekarang yang berbeda kota.

Brand image layanan publik yang buruk telah melekat erat, terbukti nyata di lapangan seperti itu adanya. Jika institusi pendidikan saja enggan ,melepas jargon "Kalau Bisa Dipersulit Mengapa Dipermudah?" bagaimana dengan yang lain? Padahal menurut Indari Mastuti --- CEO Indscript Corp yang juga menyediakan jasa Personal Branding ---untuk sampai pada Brand yang baik tentu dimulai dari perilaku yang baik, pelayanan yang berasal dari hati. Indonesia maju karena pendidikannya maju. Apa kata dunia? 



2 comments:

  1. Wah..ternyata di Bandung baru cap 3 jari juga ya..? Anak saya juga baru minggu ini melaksanakan cap 3 jarinya. Padahal sudah 2 bulan sekolah di SMP ... Saya juga heran, kenapa bisa selama itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh Fitri heraan..d mamana ternyata..parrrah ya...apalagi kalo musti kucing-kucingan he..

      Delete