Bubur Manado Norman Kamaru dan AA Gym

Berita di televisi maupun di internet ramai memperbincangkan sosok Norman Kamaru. Berita tersebut isinya menceritakan bagaimana nasib artis dadakan itu yang sebelumnya tercatat sebagai anggota Brimob Gorontalo, kini menjadi seorang penjual bubur. Diceritakan bagaimana tubuh Norman kini terlihat lebih kurus, serta penyesalannya keluar dari kesatuan Brimob.

Peran media demikian dahsyatnya, mampu mengangkat sesesorang yang bukan siapa-siapa menjadi sosok terkenal dan digandrungi. Medialah yang saat itu membantu membesarkan namanya sebagai seorang Anggota Brimob dengan kepandaiannya lips sing lagu Shahrukh Khan lengkap dengan goyangannya dalam lagi Caiya-Caiya. Akibat kepiawaiannya tersebut, sosok seorang anggota Brimob yang cenderung disegani berubah menjadi sosok yang ramah dan dekat dengan masyarakat.



Media pula yang saat ini ramai memberitakan ketenarannya yang berlangsung sesaat, membawanya pada statusnya yang baru, menjadi seorang penjual Bubur Manado. Dari banyak berita yang beredar seakan nasibnya kini adalah nasib buruk dan menyedihkan. Padahal di salah satu sesi wawancara Norman menyatakan kebutuhan keluarganya terpenuhi dan penghasilan yang diperolehnya di kisaran 300 ribu rupiah per hari.

Apa yang salah dengan nasib seorang tukang bubur? Padahal sudah ada sinetron yang menceritakan bagaimana seorang tukang bubur bisa naik haji, dan hal itu nyata terjadi. Apa yang salah dengan profesi tersebut? Jika Norman mampu mengelola uangnya dengan baik serta memanfaatkan ketenarannya saat ini dengan profesi barunya, saya yakin justru kesuksesan baru akan diraihnya. Hal yang terjadi justru sebaliknya, Norman tampak tidak percaya diri dengan profesi barunya tersebut. Meskipun dia menyatakan bahwa sang istri mendukung karena utamanya rejeki yang diperoleh adalah dari jalan yang halal. Ketidakpercayaan diri dengan pilihannya tersebut tampak manakala repoter Televisi menanyakan “Mengapa tidak memakai nama ‘Bubur Manado Norman Kamaru’ atau ‘Bubur Manado Caiya-Caiya’?," Spontan Norman menjawab bahwa dia malu mengenakan namanya dibelakang Bubur Manadonya.




Andai saja ia menggandengkan namanya di belakang Bubur Manado tentu orang akan lebih tertarik datang ke warung kecilnya. Andai saja dia sadari bahwa profesi itu sesuai dengan minatnya yang hobi masak, tentu kedatangan wartawan akan disambutnya sebagai promosi gratis dan dengan percaya diri Norman akan menceritakan dengan antusias profesi barunya tersebut. Andai saja dia mampu mengelola keuangan dengan baik seperti nasehat perencana keuangan Rina Dewi Lina, Norman bakal bisa menabung dan pergi haji. Apalagi jika bahkan sampai membayar kewajiban pajak untuk usaha kulinernya, seperti yang disampaikan seorang konsultan pajak, Zetti Arina, bisa jadi Norman akan jadi icon baru “Tukang Bubur Taat Pajak”

Bang Norman…nasi sudah jadi Bubur...Bubur Manado yang enak dan khas. Janganlah kau sesali pilihan hidupmu kini. Saya jadi teringat ucapan AA Gym di siaran radionya yang intinya menyatakan “ Kalau nasi sudah menjadi bubur, tidak usah meratap. Bubur tetaplah bubur. Yang penting kita segera cari cara untuk membuatnya menjadi enak.” Jika nasibmu kini menjadi tukang bubur, buatlah profesi itu jadi nikmat dan hebat dengan segala kemampuan yang Alloh SWT karuniakan kepadamu. Selamat Berjuang Bang... sukses menantimu.

8 comments:

  1. Artikelnya bagus dan makin mantaap aja nih teh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks Teh Nurul.. saya belajar dari para senior..termasuk Teh Nurul..

      Delete
  2. Anonymous17:45

    Keren mbak..

    ReplyDelete
  3. Norman kamaru lom ikut pelatihan Public Speaking'nya teh Indari, siih. Jadi gak PeDe dan gak bisa manfaatin momentum :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tuh..Mba Gina,,harusnya latihan jadi Public Speaking n Branding barengan Teh Indari yaak..

      Delete
  4. benar itu. Saya yakin beliau pasti berhasil

    ReplyDelete