Inilah Kunci Penyelamat saat Hadapi Resesi Ekonomi, Nomor 4 Hanya Andalkan HP untuk Melakukannya

Berita mengenai Indonesia akan memasuki resesi ekonomi akibat pandemic COVID-19 harus membuat kita makin mawas diri. Meski baru prediksi ahli ekonomi, namun tak ada salahnya kita harus bebenah diri.

Kondisi ini bukan hanya dialami oleh negara-negara berkembang, tetapi juga banyak negara maju menghapi hal yang sama.


Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?


1. Perketat Pengeluaran

Mulailah hitung pengeluaran bulanan secara cermat. Kurangi pos yang dirasa tidak perlu. Kebiasaan seperti ini akan menyelamatkan bukan saja saat hadapi resesi tetapi membuat pengeluaran lebih tertata.

2. Biasakan Menabung

Setelah menghitung ulang pos pengeluaran, langkah berikutnya yang bisa dilakukan adalah menabung. Simpan dana dalam bentuk invetasi yang mudah dicarirkan agar tidak tergerus inflasi. Simpanan  ini dapat dijadikan dana darurat.


3. Belajar Keterampilan Baru

Memiliki keterampilan baru membuat Anda memiliki daya jual. Pilih keterampilan yang berguna bagi banyak orang di masa resesi dan carilah tempat belajar yang tepat. Kursus online di @joeragan_artikel bisa jadi pilihan di masa pandemi ini.


 

4. Membuka Keran Penghasilan Baru

Kehidupan akan terus berjalan, kita tidak boleh berpangku tangan. Mulailah bersiap sejak saat ini, mulai detik ini. Setelah Anda memiliki keterampilan baru, saatnya Anda action menawarkan jasa atau produk yang Anda miliki berdasarkan keterampilan yang sudah Anda peroleh.

Untuk menambah keterampilan baru belajarlah pada ahlinya, bergabunglah dengan komunitas yang mampu membuat Anda terus mempraktikkan ilmu yang diperoleh melalui kesempatan magang yang diberikan.

Bagi Anda yang memiliki hobi phonetography bisa maksimalkan kamera HP untuk membantu UMKM melakukan foto produk. Ya, banyak UMKM memiliki keterbatasan  SDM dan waktu untuk membuat foto cantik dan menarik.

Kehadiran foto yang ciamik tentu akan meningkatkan konversi penjualan, apalagi di era pandemi, kegiatan penjualan secara online menjadi andalan.

Kelas phonetography yang recommended untuk diikuti adalah kelas STYLING persembahan https://joeragan-artikel.com/about/ yang akan membahas teknik penataan objek dan props pendukung foto produk. Sudah banyak alumni yang sukses praktikkan materi bahkan ada yang langsung dapat job dari UMKM melalui foto foto produk yang dipampang di akun media sosial, hasil belajar di kelas.


Resesi sudah dialami banyak negara, Indonesia bisa jadi salah satunya. Mulailah bergerak, praktikkan satu per satu tips di atas.

 

Inilah Kemuliaan Salat Tahajud, Yuk jadi Ahli Tahajud

Bangun malam dan melaksanakan salat tahajud banyak tantangannya, diantaranya mengantuk sehingga malas untuk bangun. Padahal salat tahajud  memberikan banyak kemuliaan bagi hamba yang menjalankannya.

Karenanya, rencanakan secara serius dan hadirkan motivasi untuk melaksanakan salat tahajud.

Apa saja kemuliaan yang diperoleh dengan mengikuti salat tahajud? Berikut ini yang disampaikan ustadz Adi Hidayat dalam salah satu sesi ceramahnya, yakni :


1. Karir terbaik menurut Allah Swt

Allah Swt akan mengangkat derajat hamba yang rajin melaksanakan salat tahajud. Karir yang terbaik bukan hanya berbentuk posisis tertinggi di sebuah perusahaan, namun Allah berikan dalam bentuk keberkahan posisi di dunia yang membawa keselamatan kehidupan di akhirat.


2. Mendapat bimbingan Allah Swt

Bimbingan dari Allah Swt berupa keinginan untuk meningkatkan Ibadah. Bagi yang semula malas melaksanakan ibadah-ibadah sunah akan lebih mudah melaksanakannya. Allah Swt akan membimbing setiap langkah hamba-Nya. Betapa bahagianya seorang hamba yang senantiasa mendapat bimbingan dalam kehidupannya. In syaa Allah selamat dunia akhirat.


3. Merupakan jalan pintas mendekatkan diri pada Allah Swt

Dengan melaksanakan salat tahajud menjadikan kita hamba yang bertaqwa. Janji Allah Swt akan diberikan jalan keluar atas permasalahan hidupnya. Tahajud dilaksanakan dalam keheningan malam akan makin mendekatkan hamba pada Rabb-Nya. Alhamdulillah.



 


4. Mendapat pertolongan langsung dari Allah Swt tanpa perantara

Apakah hidup kita senantiasa penuh dengan masalah dan belum menemukan solusi? Lakukanlah tahajud. Kedekatan seorang Allah Swt dengan hamba-Nya yang rajin melaksanakan tahajud akan memudahkan pertolongan-Nya atas setiap permasalahan hidup yang dihadapi. Maka pertolongan mahluk tidak menjadi andalan lagi karena bersama Allah Swt pasti bisa kita lalui semuanya.


Semua orang pintar dan hebat tidak pernah meninggalkan salat tahajud. Jenderal Sudirman salah satu pahlawan yang tak pernah meninggalkan tahajud. Demikian pula K.H. Agus Salim tidak pernah meninggalkan salat tahajud. Semoga berikutnya kita menjadi salah satunya.

Demikian besarnya kemuliaan salat tahajud hendaknya mulai saat ini kita niatkan untuk tidak meninggalkannya.


Ternyata Rezeki Mengalir Deras dengan Cara Ini

Pergi pagi pulang malam untuk mencari nafkah tapi rezeki tidak terus bertambah apa penyebabnya? Bisa jadi Anda lupa melakukan hal-hal sederhana dan mudah ini

Ternyata rezeki itu akan bertambah dengan cara yang mudah tanpa perlu capek dan repot. Tanpa perlu bekerja keras tidak kenal waktu, bahkan lupa dengan hak tubuh untuk istirahat.

Ustadz Adi Hidayat dalam satu sesi ceramahnya menyampaikan beberapa hal sederhana yang rutin dilakukan dan dapat menambah rezeki Anda tanpa perlu repot.

Peningkatan rezeki menurut ustadz tersebut adalah dengan cara bersyukur. Sesuai janji Allah Swt bersyukur akan menambah rezeki yang diperoleh. Yang bertambah adalah kecepatan dan kemudahan untuk mendapatkannya serta keberkahan dari rezeki yang kita peroleh.


Beberapa cara bersyukur antara lain, yakni :

1.       Keluarkan dari harta bagian zakatnya

Jika bekerja atau memiliki harta sudah memenuhi hisabnya, maka keluarkan zakatnya. Ketika berzakat artinya menginvestasikan harta untuk bertambah menjadi 10 kali lipat. Bentuknya bisa merupakan proyek baru, kesehatan, kedamaian dan ketentraman hidup. Keluarkan zakat maka Allah Swt akan melipatgandakan harta yang dimiliki. Zakat bertujuan memberikan kesucian jiwa dan menambah keberkahan harta yang dimiliki.

2.      Keluarkan Infak

Allah Swt berikan satu amalan yang menaikkan 700 kali lipat harta, lakukan infak fii sabilillah. Infak terbagi dua, yakni infak wajib (nafkah suami kepada keluarga). Infak fii sabilillah diberikan pada 5 golongan, yakni : orang tua, kerabat terdekat (kekeluargaan atau tetangga dekat), anak yatim, orang miskin, orang yang kesulitan di jalan termasuk di dalamnya pembelajar, pengajar. Misal dengan memberikan beasiswa, perlengkapan sekolah, mengajar dll.

3.      Keluarkan Sedekah

Biasakan setelah menerima pendapatan (tanpa melihat besar kecilnya uang yang diterima) segera keluarkan sedekah. Jika hal tersebut dilakukan, maka Allah Swt akan menjadikan urusan dunia menjadi kecil bagi Anda. Allahu Akbar.

Lakukan semuanya karena Allah Swt dan mendekatkan kita pada Allah Swt. Lupakan setelah memberi dan sampaikan dengan kata-kata baik. Jangan pernah menyakiti hati penerima zakat/infak/sedekah yang kita berikan. Semoga hidupmu makin berkah. Aamiin


Inilah Manfaat Dahsyat Mendongeng yang Tidak Diketahui Banyak Orang

“Bu, bacakan aku dongeng sebelum tidur.” Permintaan itu kerap muncul saat kita akan menidurkan anak-anak. Meluncurlah dongeng dari mulut kita, anak pun tidur lelap.
Pada kebanyakan kasus, mendongeng itu disampaikan sebatas kebutuhan supaya anak tidur lelap. Anak tidak rewel saat mau tidur. Sebagian besar seperti itu, termasuk saya.

Ternyata, kegiatan ruting mendongeng itu memiliki manfaat dahsyat, bahkan dongeng bisa membentuk karakter anak. Dongeng menentukan masa depan sebuah bangsa. Wah ternyata dongeng memiliki manfaat dan pengaruh yang luar biasa, ya

Apa saja manfaat dongeng, yuk kita simak satu per satu :

1. Menambah kosa kata
Setiap kali seorang Ibu atau Ayah membacakan dongeng pada anak, saat itu pula sang anak belajar hal-hal baru termasuk menambah kosa kata. 

2. Menumbuhkan rasa ingin tahu
Dongeng yang dibacakan merangsang anak untuk bertanya sehingga memunculkan rasa ingin tahu pada anak-anak.

3. Merangsang imajinasi
Dongeng mampu merangsang imajinasi anak, melalui penggambaran tokoh, latar serta alur dongeng yang dibacakan.

4. Menanamkan sifat-sifat baik pada anak
Dongeng dapat menumbuhkan sifat-sifat atau karakter baik pada anak sejak dini. Usia anak yang masih berpikir abstrak membuat dongeng menjadi sarana tepat menanamkan banyak hal baik yang kelak akan menjadi karakternya.

kelas dongeng fabel
Kelas Dongeng Anak @JoeraganArtikel


Lebih dari itu semua, ternyata dongeng memiliki manfaat yang luar biasa dahsyat. Bung Karno berpesan bahwa bangsa Indonesia harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter. Bangsa yang memiliki karakter kuat akan menjadi bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. Beliau menyampaikan bahwa jika pendidikan karakter tidak dilakukan maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Dongeng berperan besar pada masa depan bangsa.

Upaya pembentukan karakter dimulai dengan membacakan dongeng sarat makna. Disampaikan sejak dini, agar anak menerimanya dengan baik. Dongeng bukan lagi sekedar alat untuk membuat anak lekas mengantuk dan tidur lelap.

Bagaimana? Apakah sudah siap menyisipkan pesan moral pada dongeng anak menjelang tidurnya? 

Inilah Ciri Orang Sukses Versus Orang Gagal, Anda Temasuk yang Mana?

Ternyata ada hal mendasar yang membedakan orang sukses dan gagal. Hal ini perlu Anda ketahui agar dapat menghindari kegagalan dan meraih kesuksesan.

Bagaimana perbedaan antara keduanya?

1. Orang sukses selalu bertanggungjawab atas dirinya, orang gagal itu menyalahkan keadaan.
Dalam hal ini, orang sukses meskipun kondisi terjepit dalam situasi COVID-19 akan bepikir solutif, pantang menyalahkan keadaan

2. Orang sukses komitmen dengan kesuksesannya, orang gagal sebaliknya
Semua orang ingin sukses, tapi hanya sedikit yang komitmen untuk meraihnya. Ada banyak hal yang harus dilakukan menuju sukses. Siap?

3. Orang sukses selalu berpikir optimis, orang gagal selalu pesimis
Orang sukses senantiasa optimis atas apapun yang terjadi. Orang gagal melihat situasi selalu dengan kacamata pesimis

4. Orang sukses mempelajari pola sukses orang lain, orang gagal selalu mencibir
Ya, sukses itu ada polanya. Dengan mempelajari pola sukses, seseorang dapat mencapai kesuksesan pendahulunya

5. Orang sukses berpikir masalah itu mendewasakan, orang gagal berpikir masalah menghancurkan
Saat menghadapi masalah atau kegagalan orang sukses memandang bahwa ia harus belajar lebih banyak lagi. Lebih siap lagi agar mendapat kesuksesan

Saat ini pilhan ada di tangan Anda, mau pilih sukses atau gagal. Semua pilihan ada di tangan Anda



Rahasia Bisnis Laris di Masa Pandemi


Covid-19 membuat banyak bisnis terpaksa tutup. Tetapi tidak kita pungkiri tedapat banyak bisnis yang meroket di masa pandemi  ini.

Apa yang menyebabkan bisnis meroket di tengah pandemi? Jenis bisnis apa yang bisa terus laku di tengah pandemi?

Indari Mastuti CEO Indscript Creative, dalam salah satu sesi training yang dilaksanakan di Indcsript Business Women University menyatakan bahwa semua bisnis terkena dampak pandemi. Hanya pebisnis yang kreatif akan melahirkan pebisnis tangguh di era pandemi.

Bagaimana cara bisnis bisa terus kreatif dan bertahan di era pandemi? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengaitkan produk dengan kondisi pandemi.

sumber ; koleksi pribadi
Sebagai contoh, kita bisa membuka peluang reseller bagi orang yang terkenda PHK akibat pandemi. Selain itu kita juga bisa membuat paket-paket produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk membuat bisnis laris di masa pandemi :

1.       Fokus pada Solusi
Masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat saat pandemi adalah turun pendapatan dan kehilangan pekerjaan. Maka, bisnis yang memberikan peluang pendapatan akan laris dicari.

2    Naikkan amunisi belajar dan action
Belajar dan action dari ilmu hasil belajar membuat bisnismu selangkah lebih maju. Apalagi di masa pandemi semua kegiatan berbasis online membuat pebisnis harus belajar digital marketing

3    Tambah value
Berikan value pada produkmu yang tidak terdapat pada bisnis sejenis lainnya. Bisnis yang nyata memberikan manfaat akan melesat hebat.

4    Temukan keunikan
Hal yang unik membuat bisnismu terkenal pasaran. Bisnis yang berkelas melahirkan produk yang berkelas. Temukan keunikanmu.

Teruslah bergerak, jangan patah semangat. Teruslah melangkah dengan ilmu agar tertata dan terencana dengan baik.

Lakukan kerja tim, sehingga jalan bisnismu lebih hebat. Temukan komunitas positif yang akan membuatmu berpikiran positif di tengah kondisi yang terasa serba sulit.

Apapun jenis bisnis yang kau pilih, tetaplah fokus. Wahai pebisnis teruslah bergerak dan melakukan inovasi. Semangat berikan karya terbaik di era pendemi.



Tergesa-gesa itu Pekerjaan Syaitan, Betul?

Sifat tergesa-gesa itu berupa keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya, layaknya seseorang memanen buah sebelum tiba masanya. Barang siapa yang tergesa-gesa, dia akan menyesal. 


Kutipan kalimat itu makin menyadarkanku bahwa benar adanya sebuah ketergesaan sebagaimana sering Allah Swt ingatkan akan berbuah pada penyesalan. Salah satu yang membuat gagal dalam segala hal adalah kita tidak menyadari pentingnya menghargai sebuah proses dan bersabar di dalamnya, alias tergesa-gesa. Karena tak ada sesuatu yang gemilang, hebat dan prestatif tanpa aral dan uji di dalamnya. Dan kegemilangan seorang hamba Allah Swt adalah saat kita bisa lulus dalam semua proses menjalani hidup dengan terus menempatkan niatan tertinggi kita untuk ibadah.

Ya, hidup ini adalah proses. Kita lahir ke dunia melalui proses yang pajang. Bahkan Allah Swt sang Maha Kuasa menciptakan dunia dalam beberapa masa. Demikianlah sunatullah segala sesuatu di dunia ini terjadi melalui proses.Tidak sim salabim, jadi.

Sayangnya, kehidupan modern dengan segala fasilitas instant yang memudahkan, membuat kita lupa akan sunatullah, bahwa hal instant pun butuh proses. Yuk kembali resapi dan maknai ini, sebagai sesuatu yang Allah hadirkan, agar di setiap langkah selalu terselip do’a dan harapan agar semua proses dimudahkan, dilapangkan. Demikian selayaknya ketergantungan seorang hamba pada Rabb-Nya.

Hal yang seringkali membuat sebuah upaya gagal terlaksana, adalah kita marah saat sebuah proses berjalan tak seharusnya. Kesal dan menyalahkan semua yang terlibat di dalamnya. Kita lupa, bahwa sebuah proses memang tak selalu mulus dalam perjalanannya. Itulah yang menjadi hidup ini penuh warna, ada banyak cerita. Menjadi hidup dengan penuh aneka tawa dan tangisan duka.

Sabar diuji saat kita melakukan interaksi, melakukan kegiatan bersama di mana didalamnya terdapat kumpulan orang dengan karakter dan kapabilitas yang berbeda. Ujian bersabar atas semua perbedaan. Ujian sabar untuk memberikan kesempatan dan kepercayaan pada orang lain bahwa ia bisa dan mampu tanpa intervensi kita.

Dapat dibayangkan jika hidup berorganisasi dan bermasyarakat ini bergulir dari A sampai Z mulus-mulus saja, tanpa ada cacat cela. Kehidupan terasa hambar. Tak ada tantangan, tak akan ada yang bisa kita wariskan bagi anak cucu dalam aneka cerita bertabur hikmah dan penuh kesyukuran. Dan sunatullohnya, hidup itu ada ujiannya. Ada keragaman di dalamnya.

Manusia yang hidup daam kondisi steril. Tanpa pernah menghadapi masalah. Tanpa pernah bisa toleran dengan keadaan, akan melahirkan manusia kaku. Manusia jumawa, manusia yang lupa etika karena kehidupan yang ia jalani terasa lebih baik dibanding hidup si manusia lainnya.

“Ah, kamu koq seperti itu?”

“Koq enggak seperti aku?”

Manusia lupa bahwa jalan hidupnya tak akan sama persis dengan apa yang dialami orang lain. Dia pikir hidup itu satu warna. Flat dari A sampai Z harus sama. Jika demikian adanya, kita hanyalah menjadi robot tanpa inovasi dan penemuan penemuan baru untuk hadapi kekurangan kita di hari ini.

Allah hadirkan manusa  -- berbeda suku, berbeda bangsa, berbeda masalah dan cara menghadapinya-- untuk saling mengenal, muamalah dalam kerangka sabar. Sesungguhnya yang paling baik di sisi-Nya adalah manusia yang paling bertakwa.


sumber gambar : slideplayer.com


Bijak Menghadapi Masalah

Cintai proses, hargai proses, dan terus berdo’a dalam setiap detik kehidupan kalian yang merupakan proses mengumpulkan bekal menuju keabadian.

Contoh sabar saat menjalani kehidupan rumah tangga adalah dengan tidak menyakiti istri, saat ia tidak bisa menyajikan masakan lezat dengan kata-kata yang keluar dari mulut suami. Bersabar dalam proses mendampingi istri yang tengah berupaya menyajikan hidangan terbaik, versinya. Dampingi dia untuk berproses, untuk bertumbuh dengan menjadi istri yang senantiasa bahagia menyajikan aneka masakan di keluarga..

Contoh perilaku sabar lainnya adalah dengan tidak  menyakiti hati suami saat ia memberikan uang belanja tak sesuai harapanmu. Hargai prosesnya dengan melihat upaya yang sudah ia berikan untuk keluarga. Bantu suami berproses menjadi ayah terbaik versinya dengan kesabaran dan penuh do’a.

Maha Besar Allah yang menciptakan keanekaragaman di dunia untuk senantiasa mengucap syukur atas keindahan yang diberikan-Nya. Demikianlah,  hal yang semula tampak buruk, tak elok karena tak sesuai standar, akan menjadi indah saat dilihat dari sudut lain yang berbeda.

Demikian pula teman, sahabat, tetangga semua rezeki yang Allah Swt hadirkan untuk mengisi kehidupan ini dengan terus berproses melangkah menuju keabadian.

Sabar akan melahirkan kebajikan dan kebijakan

Sabar akan menjauhkanmu dari perilaku yang menyakitkan

Sabar adalah mulia, demikian yang diminta Sang Pencipta Allah Swt.

Tepat dalam Memutuskan

Tepat memutuskan adalah saat engkau melakukan hal penting dalam hidup disertai dengan kesadaran penuh akan resiko dan tanggungjwabmu atas putusan yang dilakukan.

Jangan memutuskan perkara penting dalam kondisi di bawah kendali emosi

Jangan memutuskan perkara penting saat  tengah marah

Jangan memutuskan perkara penting saat  tengah terlalu bahagia

Endapkan pikiran dan putuskan segala sesuatu dalam kondisi tanpa tekanan dan paksaan

Hanya Allah dan syariatnya yang wajib menjadi sandaran atas semua keputusan penting dalam hidupmu.

Berikan waktu pada diri untuk memutuskan tanpa emosi mengusainya.

Sifat tergesa-gesa hendaknya dilawan dengan sifat sabar dalam proses.

Tergesa-gesa merupakan salah satu sifat syaitan yang harus kita jauhi dalam kehidupan. Mengapa demikian? Buah dari sifat tergesa-gesa melahirkan penyesalan dan hilangnya kewibawaan. Sifat ini dapat menempatkan pelaku tidak pada tempatnya. Merupakan sifat gegabah, kurang berpikir dan berhati-hati dalam bertindak.

Sifat tergesa-gesa itu berupa keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya, layaknya seseorang memanen buah sebelum tiba waktunya.

Barang siapa yang tergesa-gesa, dia akan menyesal.

Yuk jauhi sifat tergesa-gesa dengan sabar menjalani proses. Inilah kunci ajaran agama Islam bahwasanya Allah Swt mencintai hamba-Nya yang mau berproses dengan terus bersabar. Bagaimana mungkin orang tua  bisa mendapati anak yang shaleh dan shalehah jika tidak mau bersabar?

Jangan terjebak pola pikir instant

Jangan terjebak pikiran mau by pass ingin sukses dengan pola karbitan

Pisau tajam karena diasah

Besi kuat karena ditempa

Semua yang Allah hadirkan dalam hidup adalah ujian yang perlu proses sabar dalam menjalaninya, sesuai kehendak-Nya.

Jangan biasakan memaksakan kehendak

Jangan biasakan gegabah dalam bertindak

Hargai proses selama di dalamnya tidak melanggar aturan-Nya

Senantiasa sabar dalam menjalaninya agar hidup penuh bahagia

Percayalah kesabaran akan berbuah manis

Ketergesaan akan mendatangkan penyesalan dan derita berkepanjangan

Sabar ciri hamba Allah

Tergesa-gesa itu kawannya syaitan

Tanamkan itu, camkan dalam hati

Semoga Allah Swt senantiasa memberkahi langkah-langkah kita dalam kehidupan yang fana ini 
Aaamiin Ya Rabb.

Yuk releksi diri, apakah selama ini lebih sering tergesa-gesa dalam bertindak, atau sebaliknya?



Dosen Killer

Kepalaku berdenyut kencang, merasa pusing bukan kepalang. Hari ini ajuanku untuk mengikuti sidang ditentang. Pasalnya, dosen pembimbingku menyatakan aku tak layak untuk mengajukan pendaftaran sidang.

Ah, aku jadi kesal. Mengapa hal itu baru diutarakannya sekarang? Bukankah setiap jadwal bimbingan aku selalu datang?

Aku jadi tambah kesal, karena merasa selama ini tak ada masalah dengan thesisku. Tetapi mengapa tiba-tiba ia menolak permohonanku?

“Saya khawatir, Ibu tidak bisa maksimal. Malu ‘kan Bu kalau nilainya nanti C? Lebih baik Ibu tidak maju ,” demikian penjelasannya.

“Pak, mohon kebijaksanannya. Selama ini saya rajin bimbingan. Tak ada masalah berarti dengan tehsis saya, kan Pak?” aku memohon kebijakan.

“Lebih baik disempurnakan, Bu,” beliau tetap bersikukuh pendapatnya.

Apa mau dikata? Meski awalnya terasa berat, pada akhirnya aku bisa menerima keputusannya. Bagaimanapun bagiku dosen pembimbing layaknya orang tua yang harus kudengar segala nasihatnya.

Berikutnya aku harus memikirkan biaya perpanjangan semester. Ya, konsekuensi yang kuterima akibat tidak bisa mendaftar siding adalah harus membayar biaya kuliah. Biaya yang cukup besar ukurannya untukku saat itu. Apalagi saat kuliah usiaku tidak muda lagi ditambah tanggungan 4 anak suai sekolah.

Aku Mulai Stres

Baru kali ini aku merasakan kegagalan dalam studi . Sebelumnya, aku selalu menyelesaikan studi tepat waktu. Jadi, ditolaknya aku mendaftar sidang seperti petir di siang bolong. Kegagalan ini membuatku malu. “Masa, kamu gak diluluskan mendaftar sidang? Apa kata dunia?”

Mulailah pikiran-pikiran buruk menyerangku. Bagaimana jika aku tidak lulus? Bagaimana jika aku terus menerus gagal? Aku mulai dilanda stres.

Ternyata menerima kegagalan bukanlah hal mudah bagiku yang terbilang selalu sukses dalam masalah akademis. Aku merasa mendapat aib. Hingga aku mulai paham mengapa ada orang-orang yang tak kuat menghadapi gagal studi akhirnya memilih bunuh diri. Naudzubillah ….

Aku tak bisa bohong dengan diriku. Kepalaku terasa penuh dengan ucapan-ucapan yang mencemooh dan mengkerdilkan diri, sampai akhirnya aku sering membaca artikel tentang kejiawaan. Ya Allah sedemikian kecewanya diri ini?

Apalagi aku melihat dengan mata dan kepala sendiri, ada kakak angkatan yang sudah berulang gagal mendaftar sidang dengan dosen pembimbing yang sama. 
Apakah aku akan mengalami hal serupa? Gagal dan gagal lagi?

Rupanya hidup tanpa pernah merasakan gagal itu bisa berakibat fatal.

Mulai Berdamai dengan Diri Sendiri

Aku lebih memilih untuk menyayangi diriku sendiri, dengan cara tidak membiarkan luka terus menganga akibat kecewa. Aku mulai memaafkan semua yang terjadi dan belajar menerima semua sebagai bagian dari takdir Illahi.

Mungkin bagi sebagian orang, ini terasa lebay. Tetapi demikianlah adanya. Setiap orang mempunyai ketahanan yang berbeda saat menghadapi masalah, aku berjuang jangan sampai menjadi “gila” karenanya, Ya Allah tolonglah aku.

Bisa jadi selama ini tanpa sadar aku terlalu sombong, berbangga diri sehingga Allah Swt tegur hinggia diriku jatuh tersungkur. Ampuni aku Ya Rabb.

Mulailah kubuka lembar-lembar thesis. Kupelajari kembali hal-hal yang dianggap kurang dan kembali menjalani proses  bimbingan, meski rasa sepi menerjang karena sebagian besar teman-teman telah lulus sidang.

Meski sebagai dosen pembimbingku terkenal killer di mata mahasiswa, aku yakin dengan kesungguhanku pasti satu saat beliau akan meloloskan dan memberikan izin padaku untuk mendaftar sidang. Pasti waktu itu akan datang padaku selama aku terus berjuang.

Kuhilangkan keegoan diri, aku lebih sering membuat janji untuk bertemu melaksanakan proses bimbingan lebih intensif.

Dalam proses aku meneliti dan mencari  solusi, aku pun melakukan banyak diskusi, kuyakin tak ada yang selamanya mudah dalam hidup ini. Sekarang saatnya aku lebih sungguh-sungguh berjuang untuk bisa lulus mendaftar siding dan memperoleh hasil gemilang.

Lebih dari itu, aku mendapat hikmah yang luar biasa. Bukan karena kepandaian manusia semua masalah bisa terpecahkan. Namun ada kuasa-Nya disetiap langkah hidup. Ya Rabb aku lalai untuk sungguh-sungguh  bermohon pertolongan-Mu di setiap langkah hidupku.

Akhirnya sang Waktu Datang

Rupanya kegigihanku untuk menyelesaikan thesis berbuah manis. Sang dosen pembimbing yang terkenal killer akhirnya merestuiku untuk maju mendaftar sidang. Alhamdulillah ya Rabb ternyata aku menang, mengalahkan rasa putus asa yang sempat menyerang.

Akibat hal ini, aku mulai mengenalkan apa arti kegagalan dan kecewa pada anak-anakku. Aku juga lebih lentur dalam menghadapi hidup. Dibawa enjoy saja.

Sebelumnya aku adalah pribadi yang serius, prefect sehingga sangat tidak toleran dengan kegagalan. Mulai dari cara bicara, cara berpakaian semua harus serasi dalam pandangan. Tetapi hal itu membuat aku mudah kecewa terhadap hal yang jauh dari kata sempurna yang kudapatkan dalam kehidupan.

Sukses dalam hidup, semua cita tercapai dengan baik, tentu jadi impian setiap orang. Memiliki jiwa lapang, mau menerima keadaan yang tidak sesuai dengan impian adalah hal yang harus dimiliki dalam hidup.  Kenapa? Karena hidup itu tidak akan selamanya mulus, akan nada kekecewaan yang harus kita hadapi dengan sabar dan tawakal.

Bersyukur aku dikaruniai anak-anak yang kuat. Mereka menghadapi masalah hidup yang lebih pahit dari sekedar tidak lolos sidang thesis seperti yang kualami. Mereka kehilangan Ayah yang kami panggil Abi saat usia mereka masih belum benyak mengerti suka duka kehidupan ini.

Di usia mereka saat ditinggal Abi, aku masih dalam masa-masa penuh kasih sayang Ayah. Aku besar dengan perhatian penuh ayah dan ibuku. Tetapi tidak dengan anak-anakku.

Kalimat penguat disampaikan oleh adik perempuanku saat aku gagal mendaftar sidang. “Teteh sudah mengalami hal yang paling berat dalam hidup, yakni ditinggal wafat suami. Gak lulus daftar sidang mah santai aja. Belajar lagi, ya nanti daftar lagi. Gitu aja. Simpel. Semangat.”

Lain lagi dengan cerita yang disampaikan adik lelakiku. Ia berkata jika sudah terbiasa menghadapi aneka kegagalan saat menjalani studi. Rupanya hal itu membuat dia lebih easy dalam menghadapi hidup. Enggak cepet stres.

Terima kasih ya Allah aku banyak belajar dari kegagalanku untuk lebih bijak dalam menghadapi hidup.

Gagal? Coba lagi

Gagal? Belajar lagi

Gagal? Bangkit lagi

Tiga kali gagal, tiga kali kita belajar

Ratusan kali gagal, ratusan kali pula kita mendapat hikmah

Asalkan jangan gagal karena kesalahan yang sama,

Jangan mengulang jatuh ke lubang yang sama,

Karena artinya belum bisa mengambil hikmah dari kegagalan sebelumnya.

Hidup sejatinya perjuangan masuk dari satu masalah ke masalah lain, penemuan satu solusi ke solusi lain. 

Berangkat dari pengalamanku yang tak mudah dan bersabar saat menghadapi kegagalan, aku mulai mengubah pola didikku pada anak-anak. 

Ajarkan anak menunda keingingan, dari sana ia belajar menahan dan sedikit kecewa.

Dampingi anak untuk berproses dalam menghadapi aneka masalah yang hadir dalam hidupnya
Kelak ketika dewasa dan menjalankan hidup yang sebenarnya, mereka siap secara ilmu dan mental.

Mereka paham hidup ini tidak seperti jalan tol, semua mulus terlewati. Pasti ada onak duri untuk menguji sejauh mana keyakinan akan pertolongan Allah Swt ada dalam diri.


Mendapat Beasiswa


Ada rasa haru dan bahagia saat sulungku, Abang Faqih lolos masuk kuliah di Teknik Sipil Universitas Pendidikan Bandung (UPI). Tetapi, diam-diam ada rasa khawatir menyelinap, karena sebagai Ibu aku paham betul bahwa passion Abang yang sebenarnya adalah di bidang informatika Jadi, Teknik Sipil adalah pilihan ke tiga sementara pilihan pertama dan keduanya adalah Teknik informatika.

Hasil talent mapping juga menguatkan pendapatku, sehingga saat kami menerima berita kelulusan tersebut aku bertanya padanya, apakah ia benar-benar akan switch? Berubah haluan, semula bercita-cita menjadi ahli IT dan akhirnya sesuai hasil SBMPTN menekuni dunia Teknik sipil?

Akhirnya, sesuai kesepakatan, Abang mengikuti perkuliahan di UPI. Bagi kami kesempatan ini adalah kesempatan luar biasa sehingga tidak boleh disia-siakan. Jikapun akhirnya setelah dicoba kuliah di sana tidak cocok, masih ada waktu untuk mendaftar SBMPTN di tahun depan. Apalagi usianya masih sangat muda saat masuk SD dulu.

Perjalanan kuliah pun dilaluinya, sebagai Ibu aku berharap ia memperoleh pengalaman-pengalaman baru, teman-teman baru. Kuliah membuka wawasannya, makin mendewasakannya. Dan banyak lagi harapan-harapan kupanjatkan dalam do’aku pada-Nya.

Memutuskan untuk berhenti

Memasuki masa perkuliahan, aku melihat anakku memiliki kesulitan dalam beradaptasi mengikuti perkuliahan, terutama tugas-tugas menggambar teknik. Beruntung, adikku seorang interior design pernah mendapatkan mata kuliah yang sama di awal perkuliahannya dulu. Sehingga untuk tugas-tugas, Abang banyak melakukan konsultasi dengan adikku.

Tetapi, ternyata hal itu tidak bisa berlangsung lama, anakku mulai merasa keteteran menggambar teknik, dan tampaknya tak ada minat untuk belajar lebih banyak teknik menggambar yang merupakan mata kuliah yang akan banyak ditemuinya di perkuliahan,  sehingga akhirnya ia memutuskan berhenti di tengah jalan.

Berat bagiku menerima kenyataan itu, namun aku yakin anakku pun mengalami hal yang sama. Putus kuliah di awal memang terasa pahit, tetapi itu jauh lebih baik dari pada ia berdusta. Ya, ada banyak kasus di mana mahasiswa berbohong pada orang tua atas ketidaksanggupan mengikuti perkuliahan. Akibatnya mereka sering membolos, tentu ini akan lebih mengecewakan.

“Ini bukan hal yang mudah, tetapi Ummi menghargai kejujuran Abang, kita coba lagi mengikuti ujian tahun depan,” aku menjelaskan.

Satu tahun berada di rumah dengan banyak pertanyaan mengenai kejelasan kuliahnya tentu bukan perkara yang nyaman untuk dilalui. Apalagi statusku sebagai seorang dosen akan menjadi sorotan jika anakku tidak kuliah. Tetapi itulah kenyataan hidup, sudah menjadi janjiku dan suami selepas SMA anak-anak dibebaskan memilih jurusan kuliah, tentu dengan arahan saya selaku Ibunya yang kini menjadi orang tua tunggal.

Masa satu tahun Abang full di rumah, dijadikan waktu menjalin kedekatan satu sama lain. Abang 6 tahun bersekolah di pondok, paling lama hanya satu bulan berada di rumah, yakni saat libur. Adaptasi pasti terjadi, apalagi karena saat ini kami tinggal di rumah orang tuaku atau neneknya. Belajar pola interaksi serta hak dan kewajiban baru yang melekat padanya selaku anak sulung kami.

Kuliah di Mana?

Tak terasa hampir satu tahun waktu terlewatkan, kini tibalah saatnya Anbang mulai fokus memilih tempat kuliah. Aku memintanya untuk tidak kos, tetap pergi dan pulang dari rumah. Tujuanku adalah agar ia kedekatan yang  mulai terjalin dan komunikasi yang sudah terbangun semakin baik.

Aku sadar, perhatianku padanya selama ini terbagi untuk memperhatikan tiga adik-adiknya, sehingga satu tahun ke depan adalah waktu emas yang bisa kami gunakan, sebelum adiknya lulus dari pondok dan mengikuti kuliah di Bandung.

Rupanya keinginanku memintanya untuk tidak kos menjadikan Abang berpikir panjang, ia belum menjawab saat aku tanya ,” Mau daftar ke mana?”. Aku dag dig dug saat ia memutuskan untuk tidak ikut SBMPTN dan memilih untuk ikut tes ke Telkom University yang lokasi tempuh maksimal satu jam dari rumah.

Aku besryukur mendengar ia sudah memiliki rencana untuk lanjut kuliah dan memilih Telkom University sebagai kampus tempatnya menuntut ilmu. Alhamdulillah.

“Tapi, kuliah di sana mahal kan Mi, “ Abang tampak gusar

“In syaa Allah pasti ada rezekinya,” aku meyakinkannya.

Mulailah aku membantu mencari info jadwal ujian masuk kampus swasta ranking pertama di Indonesia ini. Dari laman pengumuman penerimaan mahasiswa, aku dapati info ujian masuk yang dibuka saat itu adalah Jalur Prestasi Unggulan (JPU) sementara itu Ujian Tulis Gelombang-1 (UTG-1) sudah dilaksanakan dan akan dibuka kembali setelah JPU selesai.

Rupanya ada beberapa jalur masuk ke PTS ternama ini yang baru aku ketahui saat mencari informasi untuk sulungku. Aku mulai ragu akankah ia lulus bersaing di jalur prestasi? Mengingat selama di pondok anakku tergolong siswa “biasa-biasa saja” dalam hal akademik.

Segera kuhubungi bagian penerimaan mahasiswa, menanyakan syarat masuk jalur JPU. Alhamdulillah ternyata hasil penerimaan di jalur ini adalah melalui test tertulis, tidak perlu menyertakan nilai rapor. Dan kabar lainnya yang tak kalah menggembirakan adalah ada beasiswa bagi peserta yang lulus. Alhamdulillah semoga anakku beruntung lulus dan mendapatkan beasiswa lu JPU.

Kejutan yang Membahagiakan

Aku terus berdo’a demi kelulusan anakku. Tak putus harapanku atas kemurahan-Nya semoga Abang lulus beroleh beasiswa. Aku yakin ia bisa mengikuti ujian dengan baik, terutama di Bahasa Inggris dan asah logika. Bismillah semoga Allah mengabulkan do’aku.

Seminggu sebelum ujian, abang terserang demam, ia tampak terkulai lemas di pembaringan. Selaku Ibu aku fokus merawatnya tidak menyinggung masalah ujian, agar ia tidak panik. Meski sebenarnya aku khawatir ia tidak lulus di tahun ini dan harus menunggu untuk ujian di tahun depan.

“Rasa khawatir berlebihan itu gak baik, lho. Itu bisa jadi kenyataan karena kamu lebih fokus pada banyak kegagalan,” sahabatku mengingatkan saat aku bercerita masalah anakku yang tengah sakit sementara jadwal ujian tinggal menunggu hari.

“Tepis pikiran negatif, ganti dengan pikiran positif. Ubah kata-kata negatif  menjadi kata-kata positif,” aku bergumam mengingatkan diri.

Ini bukan pertamakalinya dalam hidup, aku menghadapi perkara yang dirasa sulit. Bukan pertamakalinya pula hatiku dipenuhi kecemasan luar biasa. Aku melawan rasa itu dengan lebih banyak berdo’a. In syaa Allah. Aku yakin Abang cepat pulih dan bisa ikut ujian dengan hasil memuaskan In syaa Allah.

Dan, Allah akan sesuai dengan prasangka hamba-Nya, anakku lulus masuk Telkom University di jurusan Teknik Informatika melalui jalur beasiswa. Ma syaa Allah Tabarokalloh, Nak. Alhamdulillah Alloh berikan karunia-Nya, sampai dengan semester ke tiga ini Abang terus mendapat beasiswa karena IP semester selalu di atas 3,5.

Alhamdulillah kuliah sesuai passion membuatnya mampu mengoptimalkan potensi yang telah Allah karuniakan dan di asah sejak usia dini yakni bidang informatika.

Selamat ya Nak, teruslah menjadi hamba yang taat dan penuh kesyukuran. Allah Swt senantias menjagamu.






Mencari Arti Bahagia

“Rasanya, persoalan dalam hidupku tidak pernah ada habisnya,” salah satu temanku memulai sesi curhat di siang nan terik itu.

“Sewaktu aku masih gadis, masalah yang kuhadapi adalah kapan aku bakal ketemu jodoh, menikah dan bisa punya anak seperti teman-temanku,’’. Ia berkata sambil merapikan letak kerudungnya yang nampak tidak simetris.

“Sekarang setelah punya anak, ternyata masalahku makin banyak. Mikirin pengasuh, stress membagi waktu, belum lagi berhadapan dengan suami yang tidak seromantis yang kubayangkan.’’

Begitulah hidup. Aku pun merasakan  hal yang sama. Bayangan kehidupan ternyata tak seindah dalam angan. Rasanya baru saja satu masalah selesai, sudah dihadapkan pada masalah baru. Lelah rasanya.

“Jadi kangen indahnya masa anak-anak ya. Kita bisa tertawa lepas, bermain bebas, tanpa beban, tanpa memikirkan banyak hal-hal yang berat-berat. Lihatlah anak-anak itu, betapa bahagianya mereka.” Tangannya menunjuk pada segerombolan anak sekolah yang lewat di depan kami.

Lantas kami terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Meresapi keruwetan hidup yang makin lama makin terasa menyesakkan dada.

Apa yang Salah?

Apa yang salah dalam diriku? Mengapa kebahagiaan itu tak jua hadir menyapaku? Masalah datang bertubi-tubi membuat aku menjadi sosok baru. Pribadi yang tak sabaran dan penuh amarah. Bisa jadi penyebabnya adalah rasa kekecewaan yang menumpuk. Marah seakan menjadi jalanku mengekspresikan kekesalan.

Yang paling menyedihkan, saat diri ini tidak bisa mengendalikan emosi. Anak-anak kerap menjadi korban kekesalanku. Ah jika ingat hal itu, sedih rasanya. Anak-anak tak berdosa sering keheranan melihat moody swing ibunya. “Ummi, kenapa marah-marah? Aku kan gak minta dilahirkan sama Ummi,” kalimat polos keluar dari bibir mungil itu menghentakkanku.

“Tidaklah seseorang dikatakan beriman sebelum ia diuji,’’ kalimat yang disampaikan salah satu kerabatku terngiang di telingaku. Selama ini aku sering mendengar kutipan ayat itu, tapi baru sekarang aku merasakan maknanya hingga menghujam ke dalam sanubari.

“Layaknya seorang anak sedang sekolah, ia akan diuji untuk bisa naik kelas. Begitu juga kehidupan ini, menyajikan ujian dalam bentuk sedih dan senang untuk meningkatkan kadar keimanan.”

“Kelapangan hidup jangan membuat ujub, kesedihan jangan membuatmu merasa terpuruk.”

Nasehatnya panjang lebar padaku yang tengah galau menghadapi aneka uji dalam kehidupanku.

Universitas kehidupan memberikanku banyak tempaan. Inilah waktu yang tepat untuk membumikan ayat-ayat Allah Swt yang selama ini sebatas”tahu” menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan.

Hidup sebenarnya, kurasa saat diri ini keluar dari zona nyaman saat bersama ayah dan ibu untuk memulai kehidupan baru bersama suamiku. Hidup yang sebenarnya bermula saat aku berumahtangga. Di mana aku mulai diuji keyakinan akan semua yang terjadi sebagai takdir terbaik dalam hidupku.

Bahagia itu Sederhana

Semakin bertambah usia, semakin kumengerti arti bahagia sejati yang selama ini kucari. Sebelumnya aku mengartikan bahagia dengan keberlimpahan materi, sehingga sering mengalami kesedihan jika ada hal-hal bersifat keduniawian yang belum kumiliki.

Sering semasa hidupnya, almarhum suami mengajakku menyuskuri hal-hal yang sudah kami punya. Entah setan apa yang merasukiku, sehingga lebih sering mengukur kebahagiaan dari hal-hal yang belum kumiliki, kucapai dan kuraih. Hingga bahagiaku semu, bahagia besyarat.

“Mi, mencintai itu tanpa syarat, bahagia itu pun tak besyarat,” ucapnya di satu malam saat kami  berduaan menyusuri keheningan kota Bandung.

Saat itu keempat anak kami menginap di rumah orang tuaku, sehingga baru kali ini kami punya waktu berdua, dengan menikmati malam di luar rumah.

“Hidup denganku mah gampang, ada uang kita bisa makan-makan seperti ini, tak ada uang ya ditahan.”

Sesederhana itu pemikirannya. Tapi tidak denganku yang masih kukuh bahwasanya bahagia itu adalah hidup dalam kondisi semua keinginanku dalam hal materi terpenuhi. Duh, tanpa sadar, ternyata aku cewek matre ya.

Hingga sampailah aku pada titik nadir kehidupan. Suami sakit dan harus berobat di luar kota. Sementara itu, ketiga anak-anakku terserang demam berdarah dalam waktu yang bersamaan. Luluh lantak hatiku. Aku saeakan tak berdaya menghadapi semuanya. Kudatangi mendekat pada Rabb dalam doĆ”. Aku menjerit, memohon agar suami dan anak-anakku lekas sembuh.

Aku mengutuki diri sebagai manusia yang tak tahu diuntung.Tak berterimakasih dan bersyukur atas anugerah Illahi. Segera kutelepon suamiku dan kusampaikan rasa sedih dan gundahku, juga permohonan maaf karena selama ini aku kufur atas anugerah yang telah Allah Swt berikan berupa kehadirannya dan juga anak-anakku. Aku mohon ampun pada Allah  Swt dan meminta semua kembali normal seperti sediakala.

“Ya Rabb sehatkan anak-anak dan suamiku, jangan ambil mereka dari sisiku. Ampuni aku,” dalam tangis panjang penyesalan aku berdoĆ” memohon ampun pada-Nya.

Ternyata benar yang selama apa yang disampaikan berulang oleh suami padaku. Bahagia itu sederhana. dimulai dari rasya syukur atas anugerah yang telah Allah Swt karuniakan pada kita. Dengan senantiasa besyukur, akan Allah tambahkan anugerah-Nya, sehingga bahagia itu senantiasa menjelma.